Ciri Kaum Sufi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
https://www.muhammadhabibi.com/2019/01/ciri-kaum-sufi.html

CIRI KHAS KAUM SUFI DARI ETIKA. KONDISI DAN ILMU YANG MEMBEDAKAN MEREKA DARI ULAMA YANG LAIN 

Menurut Syekh Abu Nashr as-Sarraj rahimahullah beliau berkata: Hal pertama yang merupakan ciri khas kaum Sufi yang membedakannya dari ulama yang lain setelah mereka bisa melakukan semua kewajiban dan meninggalkan larangan, adalah meninggalkan hal-hal yang tidak dianggap perlu dan penting, memutus semua hubungan yang hanya akan menghambat antara mereka dengan apa yang diinginkan dan dituju. Sebab yang menjadi maksud dan tujuannya tak lain adalah al-Haq, Allah Azza wa Jalla. 

Mereka memiliki adab (etika) dan kondisi spiritual yang beragam. Diantaranya adalah, merasa puas (qana‘ah) dengan sedikit materi (duniawi), sehingga tidak perlu yang banyak, mencukupkan diri dengan mengonsumsi makanan yang menjadi kebutuhan pokok. Sangat sederhana dalam sarana hidup yang tak mungkin ditinggalkan, seperti pakaian, tempat tidur, makanan dan lainlain. 

Mereka lebih memilih miskin daripada kaya. Mereka bergelut dengan kesederhanaan dan menghindari kemewahan. Lebih memilih lapar daripada kenyang, sesuatu yang sedikit daripada yang banyak. Mereka tinggalkan kedudukan dan posisi terhormat (di mata manusia). Mereka korbankan pangkat dan kedudukan. Mereka curahkan kasih sayang kepada semua makhluk, ramah, sopan dan rendah hati kepada yang muda maupun yang tua. 

Mengutamakan orang lain meskipun saat itu masih mcmbutuhkannya. Mereka tidak pernah iri dan dengki serta tidak peduli tcrhadap mereka yang memiliki harta melimpah. Dirinya selalu bcrprasangka baik kepada Allah, ikhlas ketika bersaing dalam melakukan ketaatan dan kebaikan. Dirinya selalu menghadap kepada Allah dan mencurhakan segalanya hanya untuk-Nya. Selalu bertahan dalam menghadapi cobaan dan bencana yang diberikan-Nya. rela (ridha) akan ketentuan (qadha’)-Nya, bersabar dalam beljuang dan menggempur hawa nafsunya. 

Selalu menghindari kesukaan-kesukaan nafsu dam selalu menentangnya. Karena Allah telah menjelaskan, bahwa nafsu akan selalu memerintah kejelekan (ammarah bis-su’), dan melihatnya sebagai musuh terbesar yang selalu berdampingan dengan Anda, sebagaimana sabda Nabi, “Musuh engkau yang paling besar adalah hawa nafsu yang ada dalam dirimu sendiri.” (H.r. al-Baihaqi). 

(1) 
Dan di antara etika (adab) dan perilaku mereka adalah selalu menjaga rahasia-rahasia hatinya dan selalu muraqabah (menjaga hak-hak Tuhan yang Maha Agung). Senantiasa menjaga hatinya, dengan membersihkannya dari bisikan-bisikan jelek, menenangkan pikiran-pikiran yang sibuk, dimana hanya Allah Yang mengetahuinya. Sehingga mereka menyembah Allah dengan penuh konsentrasi (hati yang hadir), tekad yang menyatu, niat yang mumi dan maksud yang tulus. Sebab Allah swt. tidak menerima perbuatan-perbuatan hamba-Nya yang tidak ditujukan mumi untuk-Nya. Allah berfnrman, ”Ingatlah Hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik). ” (Q.s. az-Zumar:3). 

(2) 
Di antara adab, perilaku dan ciri khas mereka yang lain, adalah menapaki jalan-jalan para wali-Nya, menerjunkan diri dalam bcrbagai posisi orang-orang pilihan-Nya dan melakukan hakikat bcrbagai kebenaran, dengan mengorbankan jiwa dan menghancurkan nafsu. Mereka lebih mengutamakan mati daripada hidup, lebih memilih kerendahan daripada keagungan dan lebih mengedepankan hal-hal yang berat daripada kemudahan. Karena keinginan kuatnya untuk bisa “sampai” (wushul) kepada al-Haq yang menjadi tujuan utamanya, ia tidak menginginkan yang lain selain apa yang dikehendaki-Nya. 

Ini hanyalah awal sesuatu yang tampak dari berbagai hakikat yang muncul dan hakikat suatu kebenaran. Apakah Anda tidak melihat, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada Haritsah r.a. ”Setiap kebenaran (haq) tentu memiliki hakikat. Lulu apa hakikat keimananmu?" tanya Rasulullah SAW kepada Haritsah RA. Lalu apa jawaban Haritsah? Dan dia pun menjawabnya, “Aku senantiasa berusaha untuk menjauhkan diriku dari dunia, aku tidak tidur di malam hari, serta aku pun tidak haus di siang hari. Seakan-akan aku melihat ‘Arasy Tuhanku yang begitu terang dan jelas, dan seolah-olah aku pun melihat ahli surga, bagaimana mereka saling berkunjung, dan melihat ahli neraka bagaimana mereka saling menolong.” Lalu Rasulullah SAW bersabda padanya, ”Berarti dirimu telah mengetahui, maka tetaplah dirimu pada jalan ini." (H.r. al-Bazzar dengan sanad dha’if). Atau sebagaimana yang diriwayatkan dalam Hadis.Dan hanya Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu.

Sumber : Kitab Al-Luma'
Karya : Syekh Abu Nashr as-Sarraj
Ditulis ulang oleh : Muhammad Habibi

Post a Comment

0 Comments