Humor Sufi: Cara Menjebak Pencuri | Abu Nawas

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم

Humor Sufi: Cara Menjebak Pencuri | Abu Nawas

Pada suatu zaman ada orang berpikir dengan cara yang amat sederhana. Dan karena kesederhanaan cara berpikir ini pula seorang pencuri telah berhasil menggondol seratus keping lebih uang emas milik seorang saudagar yang kaya dan terus mencari pencurinya dan tidak menyerah. Hakim telah berusaha semaksimal mungkin dengan berbagai cara tetapi tidak berhasil menemukan sipa pelaku pencurinya. Karena sudah merasa sedikit putus asa pemilik harta itupun mengumumkan kepada masyarakat bahwa siapa saja yang telah mencuri harta miliknya telah merelakan separuh dari jumlah uang emas itu menjadi milik sang pencuri bila sang pencuri bersedia untuk mangembalikan padanya.

Akan tetapi pencuri tersebut  malah tidak berani menampakkan dirinya. Dan membuat kasus ini semakin sulit tanpa penyelesaian yang jelas. Maka tidak bisa disalahkan bila saudagar itu mengadakan sebuah sayembara yang berisi barang siapa berhasil menemukan pencuri uang emasnya, ia pun berhak untuk sepenuhnya memiliki harta yang dicuri. Hingga membuat banyak orang mencoba untuk mencarinya tetapi semuanya kandas.

Sehingga membuat pencuri tersebut bertambah merasa aman karena ia meyakini bahwa jati dirinya tak akan terjangkau. Dan yang lebih membuat kesal adalah pencuri itu pun  juga berpura-pura mengikuti sayembara. Maka tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa menghadapi orang seperti ini bagaikan menghadapi jin. Mereka tahu apa yang kita kerjakan sedangkan kita tidak. Kemudian ada seorang penduduk berkata kepada hakim setempat.

"Maaf pak hakim mengapa tuan hakim tidak meminta bantuan Abu Nawas saja?" kata salah seorang penduduk.
"Bukankah Abu Nawas itu sedang tidak ada di tempat?" kata hakim itu balik bertanya.
"Kemana dia Abu Nawas pergi?" tanya orang itu kembali.
 “Abu Nawas pergi ke Damakus." jawab hakim tersebut. 
"Ada keperluan apa sehingga dia ke Damaskus?" tanya orang itu.
"Beliau (Abu Nawas) pergi kesana untuk memenuhi undangan pangeran di negeri itu." Jawab hakim. 
"Kapankah Abu Nawas akan datang?" tanya orang itu lagi.
"Mungkin dia akan kembali dua hari lagi." jawab hakim. 

Kini segala harapan tertumpu sepenuhnya di atas pundak Abu Nawas yang dia pun belum mengetahui masalahnya. Pencuri yang selama ini sudah merasa aman sekarang menjadi resah dan tertekan. Dan pencuri tersebut merencanakan untuk meninggalkan kampung halaman dengan membawa serta uang emas yang berhasil dicuri olehnya. Akan tetapi ia membatalkan niatnya karena dengan menyingkir ke luar daerah berarti sama halnya pencuri tersebut membuka topeng dirinya sendiri. Dan akhirnya ia bertekad tetap tinggal apapun yang akan terjadi.

Tibalah saatnya Abu Nawas kembali ke Baghdad karena tugasnya telah selesai. Kemudian Abu Nawas menerima tawaran untuk mengikuti sayembara menemukan pencuri uang emas. Sehingga membuat hati pencuri uang emas itu tambah berdebar tak karuan setelah mendengar Abu Nawas menyiapkan siasat. Pada keesokan harinya semua penduduk dusun diharuskan untuk berkumpul di depan gedung pengadilan. Tapi Abu Nawas hadir dengan membawa tongkat dalam jumlah besar. Akan tetapi tongkat-tongkat itu mempunyai ukuran yang sama panjang.

Tanpa basa-basi Abu Nawas langsung membagi-bagikan tongkat-tongkat yang dibawanya dari rumah. Setelah masing-masing orang mendapat satu tongkat, kemudian Abu Nawas berpidato: 

"Tongkat-tongkat yang kalian pegang itu telah aku mantrai semuanya. Dan pada waktu besok pagi kalian harus menyerahkan kembali tongkat yang telah aku bagikan. Tetapi kalian jangan khawatir, karena tongkat yang dipegang oleh pencuri selama ini menyembunyikan diri akan menjadi bertambah panjang satu jari telunjuk. Sekarang pulanglah kalian semua."

Bagi orang-orang yang merasa tidak mencuri tentu mereka tidak mempunyai pikiran apa-apa. Akan tetapi sebaliknya, si pencuri uang emas tersebut merasa ketakutan. Bahkan ia tidak bisa memejamkan matanya walaupun malam sudah semakin larut. Dan ia terus berpikir keras bagaimana caranya bisa lolos dari Abu Nawas. Kemudian dia pun memutuskan untuk memotong tongkatnya sepanjang satu jari telunjuk dengan begitu tongkatnya akan tetap kelihatan sama panjang seperti ukuran semula. 

Dan tibalah waktunya pagi hari untuk orang berkumpul di depan gedung pengadilan. Dan pencuri itu merasa aman dan tenang karena dia yakin tongkatnya tidak akan bisa diketahui oleh siapapun karena dia telah memotongnya sepanjang satu jari telunjuk. 

Bukankah tongkat si pencuri akan bertambah panjang satu jari telunjuk? Sabagaimana yang telah dipidatokan Abu Nawas. Dia memuji kecerdikan dirinya sendiri karena dia merasa akan bisa mengelabui Abu Nawas.

Dan kini antrian panjang pun mulai terbentuk. Kemudian Abu Nawas memeriksa satu persatu tongkat-tongkat yang dibagikan kemarin. Dan tibalah saatnya pada giliran si pencuri Abu Nawas memeriksa tongkatnya dan mengetahui karena tongkat yang dibawanya bertambah pendek satu jari telunjuk. Dan Abu Nawas sudah mengetahui bahwa pencuri itu pasti melakukan pemotongan pada tongkatnya karena ia takut tongkatnya bertambah panjang.

Kemudian pencuri itu diadili dan dihukum sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya. Kini seratus keping lebih uang emas telah berpindah ke tangan Abu Nawas sebagaimana yang telah di janjikan oleh saudagar kaya itu. Akan tetapi Abu Nawas tetaplah  bijaksana dengan apa yang diperolehnya, sebagian dari hadiah itu beliau serahkan kembali kepada keluarga si pencuri, sebagian yang lainnya lagi untuk orang-orang miskin dan sisanya untuk keluarga Abu Nawas sendiri.

*Humor Sufi

Post a Comment

0 Comments